Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Takut

Rinai hujan perlahan mereda. Aku masih menanti dirinya digerbang sekolah, hanya ditemani handphoneku yang dari tadi terus melantunkan lagu favoritku, Doushite Kimi Wo Suki Ni Natte Shimattandarou? Samar-samar aku mendengar langkah di balik tubuhku. “Thanks ya Kak udah nungguin, lama ya?” Ucap Nisa yang basah kuyup. “Nggak kok, pake nih” balasku sambil memberikan jaketku padanya. “Tapi?” “Tapi apa? Udah pake aja” Akhirnya Nisa mengenakan jaketku.
Dibawah langit senja dan temaramnya pelangi aku memacu motor sementara Nisa duduk dibelakangku. Sepanjang jalan senyum Nisa selalu merekah dan aku suka itu.  Senyumnya bagai salju yang turun digurun hatiku yang gersang yang telah lama haus akan kesejukan.
Setelah mengantar Nisa, aku pun memacu motor ke kediamanku. Entah mengapa setiap pulang dengan Nisa jantungku berdetak lebih cepat dan damai menyelimuti hatiku. Apakah ini namanya cinta yang selalu dielu-elukan oleh setiap orang? Rembulan malam itu bersinar dengan anggunnya, tak mau kalah dengan bintang yang bertaburan disekelilingnya. Rembulan yang indah itu hanya diam seribu bahasa saat aku bertanya padanya, “Apakah Nisa memiliki perasaan yang sama denganku?” Aku seperti orang bodoh yang mengharapkan jawaban dari bulan yang selalu diam.
Ternyata bulan menjawab jawabanku. Waktu istrahat esok harinya, tak sengaja kami bertemu diperpustakaan. Kami duduk besebelahan. Bukannya mengerjakan tugas yang diberikan oleh guruku, aku malah mencuri pandang kearah Nisa. Waktu berjalan lambat ketika kubersamanya. Seakan bumipun tahu aku ingin menghabiskan waktu dengannya. Pandanganku terpecahkan oleh dering bel yang menandakan waktu istirahat telah usai.
Hari itu kami tak pulang bersama. Nisa diantar pulang oleh seorang teman lelakinya. Hampa, itulah perasaanku saat itu. Terasa kosong tanpa dirinya disampingku. Ada rasa kesal saat mengingat Nisa pulang bersama lelaki lain. Apa ini yang namanya cemburu? Apa aku benar-benar jatuh cinta?
Esoknya aku dan temanku, Alan, melihat Nisa sedang bersama lelaki yang mengantarnya pulang kemarin sedang terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius. Tanpa diduga si lelaki memberikan ciuman di pipi kanan Nisa. Melihat pemandangan itu membuatku terbakar. Tanpa banyak berbicara aku langsung meninggalkan Alan dan menuju kelas.
“Siapa suruh nggak nembak?” Celetuk Alan.
“Nembak? Sorry gue nggak niat jadi polisi.” Candaku berusaha menutupi kenyataan. “Nggak usah muna lu, bilang aja suka. Iyakan?.” Desaknya.
“Ngaco lu” Elakku. Alan hanya menatapku sinis. Aku menyerah
“Emang keliatan ya?” Alan pun menghentikan tatapannya,
“Jelas keliatan, mata sama bahasa tubuh lu ngomong lebih banyak daripada mulut lu.” Aku terdiam. “Kalo lu suka sama cewek, kejar dia walau sampe ke ujung dunia.” Ucap Alan dengan mantap.“Bilang kalo lu cinta sama dia dan lu pengen jadi pacarnya.” Lanjutnya.
Aku rasa dia benar,
“Gue masih belum yakin sama perasaan gue.”
“Kok belum yakin? Jelas-jelas lu lagi falling in love.” Balasnya. “Gue…”
Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, Bu Tati masuk ke dalam kelas. “Masukkan buku kedalam tas, naikkan kertas dua lembar. Kita ulangan.” Ucapan Bu Tati langsung disambut keluhan teman-temanku. “Nanti kita lanjutin.” Bisikku kepada Alan. Bisikanku diamini Alan dengan anggukannya.
Setelah tertunda tadi kami pun melanjutkan obrolan tadi.
“Tadi sampe mana.”
Mulai Alan. “Gini, gue sebenernya ragu buat nembak dia. Gue takut dia nanti jauhin gue. Disampingnya udah cukup buat gue.” Jawabku dengan pandangan tertunduk. “Tapi lu mau lebih. Bukan sekedar teman.” Balasnya. Aku hanya tertunduk diam menyadari kebenaran ucapan Alan. “Lu nggak usah takut atau malu buat nyatain perasaan lu. Nggak ada salahnya buat nyoba.” Ucapnya. Aku hanya bisa diam. Mencoba mencerna perkataan Alan tadi.
Perkataan Alan masih terngiang dikepalaku sampai larut malam. Aku pun termotivasi untuk mewujudkan perkataan Alan. Esoknya aku bertanya kepada Tari mengenai Nisa dengan lelaki yang bersamanya kemarin. Dia adalah sahabat Nisa dan juga teman masa kecilku. “Hi Tari cantik.” Godaku. “Hi juga kak ganteng. Pasti ada maunya. Apa hayo?” Rupanya tabiatku telah tertebak. “Hehehe, gini loh kemaren aku sama Alan liat Nisa dicium cowok di depan kelasnya. Siapa sih tu cowok?” “Oh, itumah Kevin kak. Dia itu mantannya Nisa.” Jawabnya. “Mantan? Mau ngapain? Kok pake acara cipika segala?” Tanyaku ingin tahu. “Dia pengen balikan sama Nisa. Tapi Nisa nggak mau, soalnya dia lagi kepincut sama seseorang. Emang bener Kevin nyium Nisa, tapi itu diluar kemauan Nisa. Habis dicium Nisa langsung nampar tu cowok.” Jawab Tari dengan mantab. “Ternyata begitu.”
Ucapku diiringi senyum samar.
 “Sekarang giliran aku yang nanya. Ngapain kakak nanya-nanya begituan? Jangan-jangan?” Tanyanya diiringi dengan seringai jahil. “Ah nggak apa-apa. Cuma penasaran doang.” Jawabku sedikit terbata-bata. “Masa cuma penasaran?” Tanyanya lagi. “Udahan dulu ya, mau ngangkat jemuran nih.” Kilahku ingin menghindar dari pertanyaan Tari. Lagipula saat itu langit sedang diselimuti awan gelap. Aku langsung berlari menuju rumah. “Nggak mau ngaku juga apa-apa!”
Teriak Tari dari belakangku. Aku hanya berbalik dan menjulurkan lidahku.
Ada tanda Tanya didalam benakku. Siapa yang sedang ditaksir oleh Nisa? Apakah dia itu aku? Atau orang lain? Aku benar-benar bingung dengan masalah ini. Tapi aku ingin Nisa tahu perasaan ini kepadanya.
Esok harinya aku dan Nisa kembali bertemu diperpustakaan. “Kak boleh nanya nggak?” Ucap Nisa membuka pembicaraan. “Boleh, mau nanya apa?” Jawabku menatap matanya yang sempurna dimataku. “Menurut kakak, aku gimana orangnya?”
“Baik.”
“Cuma itu?”
“Sebenernya…”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku teman-teman Nisa datang ketempat kami dan membawa Nisa tanpa permisi.
Gagal sudah rencanaku menyatakan perasaanku kepada Nisa.
Malam-malam setelahnya aku berusaha meyakinkan diri sendiri untuk menyatakan perasaan ini padanya. Namun esoknya keyakinan itu hilang dan digantikan dengan senyum Nisa dikepalaku.
Tanpa aku tahu ayah akan dipindah tugaskan ke Korea Selatan. Ayah adalah seorang diplomat. Dengan segenap keberanian aku mencoba untuk mengungkapkan rasa yang kupendam selama ini. Malam terakhir dikota ini, aku  berbicara didepan cermin dan aku menggap cermin itu adalah Nisa. Namun Aku melihat diriku sendiri.
“Lu nggak bakal bisa ngungkapin perasaan lu sama dia.” Ledek diriku dalam cermin. “Kata siapa?”
Tantangku. “Gue adalah pikiran lu. Gue tahu apa yang lu rasain.”
“Lu takut buat mencoba, berkali-kali ada kesempatan tapi lu malah nggak ngelakuin apa-apa.” Jawabnya seakan tahu segalanya. Tapi aku rasa dia benar.
“Gue emang takut. Takut nggak bisa jadi orang yang selalu diimpikannya. Takut nggak bisa jaga hatinya. Dan gue takut ngancurin persahabatan gue sama dia.” Jawabku sambil memukul cermin itu hingga pecah. Diriku yang berada didalamnya hanya tersenyum masam dalam serpihan.
Aku mendapati diriku baru terbangun dari tidur. Rupanya aku bermimpi. Aku tertidur didepan sebuah cermin. Cermin yang berkata apa sebenarnya diriku. Esoknya aku berpamitan dengan teman-teman sekolahku. Namun aku tidak mendapati Nisa. Akhirnya aku menitipkan sepucuk surat untuk Nisa kepada Tari. “Kasih Nisa, jangan dibaca.” Ucapku kepada Tari. “Siap bos!” Balasnya sambil melakukan gerakan penghormatan.
Biarlah rasa ini ku bawa pergi hingga ku mati, Aku memang takut untuk mengungkapkan rasa ini, namun Aku tak pernah takut untuk terus mengagumi keindahan pada dirinya.
“Bodoh” Geramku.
“Emang isinya apa?”
Tanya Tari. Langsung saja ku perlihatkan surat yang dititipkan Kak Aldo kepadanya. “Kenapa sih dia nggak pernah sadar kalo gue suka sama dia? Apa susahnya sih ngomong ‘aku cinta kamu?’“

Pengintaian Galuh

‘Assalamu’alaikum’ Dista menuju meja yang bertuliskan Rina Briliant Sp.d. dan menunjukkan beberapa makalah kepada Bu Rina.‘sudah terkumpul semua?’‘ada satu kelompok yang belum mengumpulkan, harusnya makalahnya hari ini selesai, tapi karena data-datanya hilang semua sama virus, jadi mereka harus membuat ulang Bu’ Dista menjelaskan yang sebenar-benarnya.‘kelompok berapa yang belum mengumpulkan?’‘kelompok lima Bu’‘bilang sama mereka, Ibu kasih waktu tiga hari lagi, kalo nggak selesai juga ibu nggak akan kasih nilai praktek buat mereka’‘iya bu’ Dista pamitan pada beliau dan bergegas menuju kelas. Disepanjang perjalanan menuju kelas, sebelumnya ia harus melewati lapangan sekolah terlebih dahulu. Terlihat olehnya Galuh, Refi, Uki dan teman-temannya sedang bermain basket disana.

Tak disadari olehnya, sepanjang perjalanan itu, ia terus memperhatikan Galuh. Langkahnya dibuat pelan, pandangan terpusat olehnya, hampir saja ia menubruk dinding didepannya.‘Masya Allah’ Dista celingak-celingukan melihat keadaan sekitar ‘untung aja nggak ada yang liat dan untung aja nggak beneran nabrak’ ‘so cool’ kata Dista sinis. Dista mengalihkan pandangannya dan kembali ketujuan semula untuk menuju kelas. Namun beberapa detik kemudian ia kembali menatap Galuh.“siapa dia?” kata Dista dalam hati. Hari Senin, saat upacara bendera, para murid berseragam putih abu-abu telah berkumpul dilapangan. Dista celingak-celingukan mencari seseorang dalam barisannya, ketika ia mendapatkan sosok yang ia cari-cari dari tadi, ia berusaha untuk melihatnya lebih jelas. Siapa sosok itu? Apa yang terjadi dengannya, ternyata sosok itu adalah Galuh. Untuk yang kesekian kalinya ia memandangnya.

Galuh yang sedang asyik mengobrol dan sesekali ia menjaili teman disebelahnya. Upacara yang sungguh tidak tertib dibarisan itu. Ia mengambil sebuah sedotan didalam saku celananya dan mengikat sedotan itu dengan bentuk yang sedemikian rupa pada ikat pinggang Refi yang berada didepannya, tanpa sepengetahuan Refi rencana itu berhasil.

Kemudian Galuh beralih pada seorang pria dibelakangnya yaitu Michael dan dengan sengaja ia menginjak kaki Michael. Spontan jeritan keluar dari mulutnya.‘aw’ Michael langsung menutup mulut dengan tangannya, jelas ia kesakitan dan kaget, saat itu sedang hening, mungkinkah suaranya terdengar kemana-mana. Dan pandangan semua peserta upacara tertuju pada Michael. Cie… nggak semuanya kok, hanya sebagian.‘bikin malu aja loe’ Michael sedikit berbisik.‘biar eksis kel’ dengan nada yang sama Galuh sedikit berbisik.BUK. Michael menendang kaki Galuh, ‘aw’ jeritnya. Dengan cepat Michael langsung berkata pada Galuh ‘biar eksis luh’ sekali lagi, kini pandangan peserta upacara tertuju pada seorang murid, namun bukan Michael tapi Galuh. ‘satu sama’ tambah Michael sambil mengancungkan telunjuknya.

Dan kali ini Galuh mengalihkan pandangannya kebelakang pada barisan putri kemudian ia mendapatkan seorang wanita yang sedang memandangnya. Dengan kejailannya lagi tanpa ragu-ragu ia melambaikan tangannya kepada wanita itu sambil mengumbar senyum yang so cool ala Galuh. Dista buru-buru membenarkan lengan bajunya yang terlipat dan membenarkan ikat pinggang yang sedikit miring. Tak tahu harus berbuat apa lagi, ia sudah kehilangan gaya.

Sedikit-sedikit ia membenarkan kerudungnya yang tertiup oleh angin.
Kring….Jam pelajaran telah usai, kini saatnya Dista kembali kerumah.
‘Bilbis, pulang nggak?’‘ntar, loe duluan aja!’‘ya udah’Sepulang sekolah
Dista tak langsung pulang kerumah. Ia memilih untuk pergi kesuatu tempat terlebih dahulu.
Dista menatap dari kejauhan sebuah took bunga diseberang jalan. Seperti sedang menunggu sesuatu, tak sedikitpun ia beranjak dari tempat itu.
Sesekali Dista melihat jam mungil dilengannya. Agar tidak terlalu bosan, ia pun membaca komik detective conan favoritnya, tak lupa pula sesering mungkin ia menatap toko tersebut.Beberapa menit kemudian, keluarlah sosok pria dari toko tersebut.
Ternyata ia adalah Galuh dengan membawa serangkaian bunga mawar merah dan putih. Mulailah Dista beranjak dari tempat asalnya.
Membuntuti Galuh dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan. Hingga sampailah Galuh disebuah rumah sederhana diantara mewahnya rumah-rumah dan banyaknya gedung-gedung pencakar langit. Banyak sekali anak-anak kecil yang sedang bermain.
Galuh pun masuk dan mengumbar senyum pada anak-anak tersebut.Dista yang menatap dari kejauhan tampak berpikir sesuatu, “rumah itu, bukankah panti asuhan?
Aku mengenalnya, sangat taka sing bagiku, sudah lama sekali Aku tidak ketempat itu” kata Dista dalam hati, secara tak sadar kini Dista terlelap dalam lamunannya.“woi…!!!” seseorang melambaikan tangannya didepan wajah Dista yang sedang melamun.Sontak Dista kaget dan salah tingkah.
“Galuh?” buru-buru Dista membalikkan badannya dan pergi menjauh.“besok-besok kalo mau ngikutin gue lagi jangan sampe ketahuan ya! Oh iya jangan pake ngelamun juga!!!” teriak Galuh ketika Dista pergi berlalu.Dengan sangat malu Dista berlari sejauh mungkin sambil menutupi sebagian mukanya.“bodoh banget sih, kenapa bisa sampe ketahuan” gumam Dista.Keesokan harinya, setelah pelajaran Fisika selesai, Dista melangkahkan kakinya menuju kantin sekolah yang terletak diantara ruang kesenian dan ruang ganti wanita. Segelas es capucinno telah ada dihadapannya.“makasih ya pak” katanya kepada penjual es.Tanpa ragu-ragu Dista meneguk es tersebut.

Ditatapnya sebuah foto mini yang selalu disimpan dalam dompet kesayangannya.
“kayaknya loe nggak bakat deh buat jadi kayak Shinichi Kudo”
Galuh tiba-tiba berada didepannya.“maksud kamu?” Tanya Dista heran.“sampe sekarang aja loe masih ragu dan nggak yakin kalo gue adalah Galuh temen loe waktu kecil di panti asuhan”Dista mulai menampakkan wajah sumringahnya.“jadi bener, kamu Galuh gigi reges yang suka makan coklat?” Dista masih tak percaya, “kok beda ya?”“ya beda lah, gue sekarang udah gede dan tambah ganteng, iya kan?” katanya menyombongkan diri.“dih, kegeeran sendiri” Dista memukul bahu Galuh.“Aku nggak nyangka bakalan ketemu lagi sama kamu setelah kita sudah diadopsi” Ia mempersilahkan Galuh untuk duduk.“gue juga masih nyimpen foto itu” Galuh menunjuk selembar foto yang dipegang oleh Dista, “foto itu diambil waktu pertamakali kita diajak jalan-jalan sama Ibu panti asuhan ke Monas. Dan lihat, loe selalu bawa komik detective conan kemana pun loe pergi” dalam foto itu terlihat Dista sedang membawa komik detective conan, “dulu setiap loe ditanya sama orang tentang cita-cita, loe selalu jawab, Aku ingin jadi seperti tokoh Shinichi Kudo yang ada di komik ini, soalnya dia orangnya pintar dan jenius juga bisa memecahkan masalah dengan cerdik” Galuh memperagakan gaya bicara Dista waktu kecil.“Aku juga paling inget waktu kamu kecil paling bandel dan suka dipanggil sama anak-anak yang lain gigi reges suka makan coklat”Seperti orang yang sedang bernostalgia, mereka pun asyik tengelam dalam cerita-cerita semasa kecil. Dari gaya bicara mereka, sangat terlihat bahwa masa kecil mereka sangat menyenangkan walaupun tak ada orang tua sesungguhnya. Pengintaian yang dilakukan Dista berakhir sampai sini. Semuanya sudah terungkap, ternyata dugaannya selama ini benar. Galuh adalah teman semasa kecilnya.Inilah pertemuan mereka setelah perpisahan yang begitu lama. Keakraban itu mulai tumbuh lagi saat ini.Sepulang sekolah nanti Dista dan Galuh berencana untuk mengunjungi panti asuhan tempat mereka tinggal semasa kecil.

Setelah itu Dista akan berkunjung kerumah Galuh untuk meminjam 8 seri komik detective conan.
Nggak jauh-jauh deh sama komik Detective Conan terutama Shinichi Kudonya. By: Umi Kulsum (oemi_mori@yahoo.co.id)

Untuk waktu yang terlewatkan

Keluarga merupakan satu anugrah terindah yang tak pernah dapat tergantikan oleh apapun. Rumah yang damai,penuh kasih sayang, kebersamaan,canda tawa bahkan pelukan kehangatan.
Ahhh…itu hanya dongeng bagiku..
Ku gerakkan langkah gontai melangkah menuju tepi kamar memandangi saat sang fajar kembali keperaduannya.yahh..hanya senja yang mampu menentramkan jiwa sepiku saat ini.
********
Giska Pratiwi,itulah nama lengkap ku mereka biasa memaggilku senja,hahahaa..lucu memang,tapi entah dari mana mereka menemukan panggilan itu untukku.tapi tidak oleh orang tua ku
”tiwi, mama dan papa akan pergi ke Belanda. Kamu baik-baik sama bibi ya..Ini uang saku kamu selama kami pergi”  sambil meletakkan amplop yang berisi uang yang entah berapa diatas meja dan  mereka berlalu begitu saja.
Ya..seperti itulah mereka dari hari kehari..datang dan pergi sesuka hati mereka, bahkan aku tak percaya bahwa mereka menganggap memiliki rumah ini,rumah singgah mungkin aku menamainya. Apa ini yang disebut dengan kehangatan keluarga,kasih sayang orang tua yang hanya menilainya dengan seamplop uang..ahhh..aku tak peduli lagi dengan itu,dengan apa yang mereka lakukan.tapi selepas kepergian mereka, tanpa terasa butiran-butiran kristal bening itu kembali jatuh tanpa komando lagi. entah sudah berapa banyak butiran bening itu aku habiskan hanya untuk hari seperti ini. Tapi tak sedetikpun mereka ada untuk meluangkan sedikit waktunya menghapus butiran bening ini  dengan tangan lembut mereka. Kepala ku terasa begitu berat,perlahan-lahan sakit mulai menyerang semua syaraf ku. Setiap persendianku terasa begitu lemah untuk menopang badan mungilku. Dan alam sadar ku pun telah menghilang hanya dalam hitungan detik.
*****
Jam telah menunjukkan pukul 23.42 WIB, dentingan detik demi detik jarum jam menambah kesunyian malam,terdengar samar ditelingaku..tik tik tik tik…. sakit tak lagi kurasakan,mungkin tubuhku telah kebal untuk rasa sakit itu,melihat tubuh putih tanpa darah terbaring lemas lengkap dengan jarum,selang infus bahkan jarum-jarum lain yang aku tak tau pasti fungsinya untuk apa melekat ditubuh itu. Berada disudut sepi,sunyi dan sendirian di ruang putih ini yang jauh lebih menyakitkan ku.
Tak selang beberapa lama aku melihat mama dan papa masuk dan mulai mendekatiku,kurangkuh mereka dalam pelukanku,sungguh aku rindu kehangatan mereka. Tapi…mengapa tanganku tak mampu menyentuh sentuhan hangat itu.
”Dok, apa yang terjadi dengan anak saya” ku lihat mama menangis dipelukan papa. Tak pernah sebelumnya aku melihat mama sehisteris itu dan Papa juga terlihat sangat rapuh.
”Mama..aku baik-baik saja” aku tersenyum  sambil mencoba menghapus air mata dipipi lembut mama.
Tapi…lagi-lagi aku tak mampu menyentuhnya..
”Maaf Buk, kami sudah berusaha semampu kami, tapi Tuhan telah berkata lain, kanker otak yang diderita oleh putri ibu telah merenggut nyawanya”
Ucapan sang dokter terdengar bagai petir yang datang begitu saja bagiku dan juga bagi orang tuaku.
Aku tak percaya dan aku mulai memejamkan mataku perlahan berharap ini hanya mimpi burukku,dan disaat mataku terbuka kembali maka aku akan kembali dikehidupan ku, ku buka mataku kembali..tapi aku masih berada diruang putih ini,melihat orang-orang yang aku sayangi  begitu rapuh.ku ulangi lagi sampai berkali-kali,tapi hasilnya masih tetap seperti itu kembali.

Jiwa ku terasa semakin dingin, ingin rasanya aku menghapus tangisan orang tuaku seperti halnya dulu aku berharap mereka menghapus tiap tetes air mata yg jatuh dari pelupuk mataku. Waktu ku telah habis,semua angan dan harapanku telah memudar dalam sudut ruang putih ini.
*********
Wangi melati semerbak aku rasakan saat ini,tanah gundukan bersimbah puluhan macam kembang yang berserakan tanpa susunan terlihat begitu menyakitkan.
Demi waktu yang terlewatkan..ingin rasanya menumpahkan semua tangisku pada tembok yg tak berpenghuni..demi waktu yang terlewatkan.. kudekap hangat cinta kasihmu dalam sapuan bunga tidurku nanti demi waktu yang terlewatkan.. aku mengenal setiap indahmu dari hirupan nafasku simfoni harap begitu indah terdengar dalam raut sang waktu melambungkan semua kisah sang senja dan mengembalikannya kepada sang  mentari

-giska pratiwi-

Kulihat mama tengah memegang buku kecil yang selalu menemani hari-hariku.membalik tiap lembarnya dan tak izinkan satu huruf pun untuk terlewatkan.
”Maafkan mama dan papa sayang,,atas semua waktumu yang telah terlewatkan begitu saja” ku dengar kata-kata mama dari sela isak tangis sambil memeluk buku kecilku. Kata-kata itu terdengar seperti hujan yang menyirami tanah gersang ku yang haus akan pelukan dan kata hangat mereka. Tapi kini sudah terlambat, hanya buku kecilku yang berada dipelukan mereka.
Aku tersenyum, semua waktuku akan selalu kusimpan dalam hatiku sampai saat kini cahaya putih itu pun mengantarkan aku meninggalkan semua waktu ku yang telah terlewatkan.

Cerpen Pengalaman Pribadi - Memancing Bersama Teman - Teman

Cerpen Pengalaman Pribadi - Berikut ini adalah contoh cerpen yang dibuat dari pengalaman pribadi yang berjudul Memancing Bersama Teman - Teman

Angin berhembus kencang dan terdengar suara gelombang-gelombang air kecil disertai kicau-kicau burung. itulah yang aku rasakan setiap pergi memancing ke waduk bojong asem pada hari libur kerja bersama temanku.
            Sesampainya kami dilokasi yang cukup nyaman untuk kami,setelah itu kami mempersiapkan alat-alat pancingnya.
            “Wan,kalau menyiapkan umpan,dan alat-alat pancingnya bagianku.”Ucapku untuk membagi tugas kami.
            “Baiklah.”Balas Wandi.
            Setelah semuanya beres,kami bergegas untuk mulai mencari ikan.

“Wan,ayo lomba banyak-banyakan mendapat ikan,siapa yang menang nanti akan membawa pulang ikannya.”Ajakku.
“Baiklah,siapa takut.”Balasnya.
Dan cukup lama kami memancing, kedudukannya pun juga baru 1-1, karena cuaca kurang mendukung makannya ikan. Lalu saetelah Wandi bosan karena dia belum mendapat ikan lagi maka dia mengeluarkan jurusnya,yaitu asal-asalan.
“Wan,apa yang kamu lakukan ?”Tanyaku.
“Ah,berisik! Diam dan lihatlah sang master beraksi!” Balasnya.
            Lalu dia membuat sebuah gumpalan umpan ikan yang cukup besar,setelah selesai membuatnya segeralah dia melelparkannya dengan sekuat tenaga hingga mampu hampir mencapai tengah waduk.
            Sudah cukup lama dia menanti dan aku sudah mendapat satu lagi ikan. Setelah lama menunggu akhirnya ujung pancingnya bergerak, dan segera mungkin dia menariknya.
            “Ah,berat sekali sepertinya ikan besar.”Ujarnya.
            Lalu dia membiarkan dulu ikan itu berenang kesana-kesini karenamenunggu ikan itu menyerah dan takut jika senarnya putus. Tapi bukannya lelah, ikan itau malah berenang menuju senar-senar pancing milik bapak-bapak yang sedang memancing juga. Dan akhirnya,”Byur.. Byur.. Byur..” Suara pancing-pancing yang tercebur ke air, karena ikut terseret senar Agung yang ditarik ikan itu. Lalu ikan itu pun akhirnya juga terlepas.
            Agung pun kecewa dan minta maaf kepada bapak-bapak yang pancing-pancingnya sudah tercebur, dan setelah itu mengajakku pulang.




  • Tema pada cerpen diatas mempunyai tema, yaitu kesabaran dalam melakukan sesuatu.
  • Alur atau Plot pada cerpen diatas menggunakan alur maju.
  • Penokohan Description: Cerpen pengalaman pribadi Rating: 4.5 Reviewer: Muhamad Riyanto - ItemReviewed: Cerpen pengalaman pribadi.

 
Support : Universitas Pamulang | Android | Kaskus
Copyright © 2013. Photoshoot Asian Beauty - All Rights Reserved
Template Created by Photoshoot Asian Beauty Published by MRIYANTO
Proudly powered by Blogger